BAB THAHARAH
07:41 | Diposting oleh
Unknown
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
BAB I
BAB AIR
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي
الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ
وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ
وَأَحْمَدُ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. "Laut itu
airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal."Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut
riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi.
Malik, Syafi'i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إنَّ
الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ
أَحْمَد
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya (hakekat) air adalah
suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya."Dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad.
وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ
وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ
وَلِلْبَيْهَقِيِّ الْمَاءُ طَهُورٌ إلَّا إنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ
لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ
Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak ada
sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah
bau, rasa atau warnanya."Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim.
Dalam riwayat
Al Baihaqi, "Air itu thohur (suci dan mensucikan) kecuali jika air
tersebut berubah bau, rasa, atau warna oleh najis yang terkena
padanya."
وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ
وَفِي لَفْظٍ لَمْ يَنْجُسْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ
وَالْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ
Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika banyaknya air telah mencapai
dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran." Dalam suatu lafadz hadits: "Tidak
najis".Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah,
Hakim, dan Ibnu Hibban.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ
جُنُبٌ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَلِلْبُخَارِيِّ لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا
يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ وَلِمُسْلِمٍ مِنْهُ وَلِأَبِي دَاوُد :
وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam
air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub." Dikeluarkan
oleh Muslim.Menurut Riwayat Imam Bukhari: "Janganlah sekali-kali seseorang di
antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi
di dalamnya."Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: "Dan janganlah seseorang mandi
junub di dalamnya."
وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ
تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ
وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَإِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ
Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang
perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air perempuan,
namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama."
Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i, dan sanadnya benar.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ
بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
وَلِأَصْحَابِ السُّنَنِ : اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ يَغْتَسِلُ
مِنْهَا فَقَالَتْ : إنِّي كُنْت جُنُبًا فَقَالَ : إنَّ الْمَاءَ لَا يَجْنُبُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ
خُزَيْمَةَ
Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah
mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam
Muslim.
Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu
'alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi
dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak menjadi
junub." Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ
بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Ibnu Abbas r.a: Bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah
mandi dari air sisa Maimunah r.a. Diriwayatkan oleh Imam
Muslim.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ
سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ
أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika
dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan
debu tanah." Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan:
"Hendaklah ia membuang air itu." Menurut riwayat Tirmidzi: "Yang
terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah)".
وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ - فِي
الْهِرَّةِ - : إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ
عَلَيْكُمْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ
وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ
خُزَيْمَة
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah
termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan
dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ
أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ
عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: "Seseorang Badui
datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya,
lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah
selesai kencing, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan
setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu." Muttafaq Alaihi.
وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحِلَّتْ
لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ : فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ وَأَمَّا الدَّمَانِ
: فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَفِيهِ
ضَعْفٌ
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua
macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam
darah adalah hati dan jantung." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan
di dalam sanadnya ada kelemahan.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ
لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ
شِفَاءً أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد .
وَزَادَ وَإِنَّهُ
يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِي فِيهِ الدَّاءُ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman
seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab
ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat
penawar." Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: "Dan
hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya."
وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ - وَهِيَ حَيَّةٌ - فَهُوَ
مَيِّتٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ
وَاللَّفْظُ لَهُ
Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Anggota yang terputus dari binatang yang masih
hidup adalah termasuk bangkai." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan
beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.
Label:
Bulughul Marom
|
0
komentar
Siroh Nabawi
07:11 | Diposting oleh
Unknown
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
BAB III
MUHAMMAD DARI KELAHIRAN - PERKAWINANNYA
Perkawinan Abdullah dengan Aminah
Usia
Abd'l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih
tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba.
Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah
tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah
bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu
yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka
pergilah anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan
anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya. Sebagian penulis sejarah
berpendapat, bahwa ia pergi menemui Uhyab, paman Aminah, sebab waktu
itu ayahnya sudah meninggal dan dia di bawah asuhan pamannya. Pada hari
perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd'l-Muttalib juga kawin dengan
Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi
dan yang seusia dengan dia.
Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga
hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan
dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka
pindah bersama-sama ke keluarga Abd'l-Muttalib. Tak seberapa lama
kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria
dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih
terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin
lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan
diri kepadanya? Rasanya tak ada gunanya menyelidiki
keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti ialah Abdullah adalah
seorang pemuda yang tegap dan tampan. Bukan hal yang luar biasa jika
ada wanita lain yang ingin menjadi isterinya selain Aminah. Tetapi
setelah perkawinannya dengan Aminah itu hilanglah harapan yang lain
walaupun untuk sementara. Siapa tahu, barangkali mereka masih menunggu
ia pulang dari perjalanannya ke Syam untuk menjadi isterinya di samping
Aminah.
Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal
selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali
lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Medinah
sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.
Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi
kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu.
Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia. Dan merekalah
yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka
sampai di Mekah.
Abdullah Wafat
Begitu
berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith - anaknya yang
sulung - ke Medinah, supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh.
Tetapi sesampainya di Medinah ia mengetahui bahwa Abdullah sudah
meninggal dan sudah dikuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya
berangkat ke Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa
perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa
hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang
suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian
juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya
terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di
kalangan masyarakat Arab sebelum itu.
Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri
dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak
perempuan, yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh
jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi
tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di samping itu umur Abdullah
yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha
mencapai kekayaan. Dalam pada itu ia memang tidak mewarisi sesuatu dari
ayahnya yang masih hidup itu.
Muhammad Lahir
Aminah
sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan.
Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd'l Muttalib di Ka'bah,
bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang
tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah
anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah
ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu
dibawanya ke Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di
kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi
itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan
menyusukannya dari Keluarga Sa'd (Banu Sa'd), untuk kemudian
menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana
sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.
Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan,
beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun
Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah
itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum
peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa
hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah.
Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai
tujuhpuluh tahun.
Juga para ahli berlainan pendapat mengenai
bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan
Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain
berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan
Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.
Kelainan pendapat itu juga mengenai hari
bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul
Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya
mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini
adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.
Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat
mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga
mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai
sur l'Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan
Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di
rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.
Pada hari ketujuh kelahirannya itu
Abd'l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan
dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui
bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia
tidak suka memakai nama nenek moyang. "Kuinginkan dia akan menjadi
orang yang Terpuji1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,"
jawab Abd'l Muttalib.
Disusukan Oleh Keluarga Sa'd
Aminah
masih menunggu akan menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang
Keluarga Sa'd yang akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi
kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah. Adat demikian ini masih
berlaku pada bangsawan-bangsawan Mekah. Pada hari kedelapan sesudah
dilahirkan anak itupun dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang
ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan
kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di
antaranya ialah kabilah Banu Sa'd. Sementara masih menunggu orang yang
akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak
perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan,
seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah
saudara susuan.
Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja
menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama
hidupnya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia
hijrah ke Medinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia menanyakan
tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan. Tetapi kemudian ia
mengetahui bahwa anak itu juga sudah meninggal sebelum ibunya.
Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga
Sa'd yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi
yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak
yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari sang
ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka
harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu tak ada yang mau
mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila
mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.
Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang
pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata
tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia
memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak
menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah.
Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya: "Tidak senang
aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi.
Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga."
"Baiklah," jawab suaminya. "Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita."
Halimah kemudian mengambil Muhammad dan
dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia
bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah.
Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah
memberkati semua yang ada padanya.
Selama dua tahun Muhammad tinggal di
sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima', puterinya.
Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat
sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan
badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah
membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke
pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, kata sebuah
keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah
sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga memang dikuatirkan
dari adanya serangan wabah Mekah.
Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara,
menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh
sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.
Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada
Pada
masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi
cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan
saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang
rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga
Sa'd itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya:
"Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang
laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di
balik-balikan."
Dan tentang Halimah ini ada juga
diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: "Lalu saya
pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri.
Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami
tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh dua
orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di
bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka
cari."
Halimah dan suaminya kembali pulang ke
rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah
kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di
Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah
kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq
nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya
kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan -
seperti cerita Halimah kepada Aminah - ketika ia di bawa pulang oleh
Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia
memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu.
Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata:
"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja
kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang
mengetahui keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri
dari mereka dengan membawa anak itu. Demikian juga cerita yang dibawa
oleh Tabari, tapi ini masih di ragukan; sebab dia menyebutkan Muhammad
dalam usianya itu, lalu kembali menyebutkan bahwa hal itu terjadi tidak
lama sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.
Baik
kaum Orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak
merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan menganggap sumber itu
lemah sekali. Yang melihat kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita
penulis-penulis sejarah itu hanya anak-anak yang baru dua tahun lebih
sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan tetapi
sumber-sumber itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di tengah-tengah
Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima tahun. Andaikata peristiwa
itu terjadi ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu
Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada ibunya, tentulah terdapat
kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh
karena itu beberapa penulis berpendapat, bahwa ia kembali dengan
Halimah itu untuk ketiga kalinya.
Dalam hal ini Sir William Muir tidak mau
menyebutkan cerita tentang dua orang berbaju putih itu, dan hanya
menyebutkan, bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya
suatu gangguan kepada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu
gangguan krisis urat-saraf, dan kalau hal itu tidak sampai mengganggu
kesehatannya ialah karena bentuk tubuhnya yang baik. Barangkali yang
lainpun akan berkata: Baginya tidak diperlukan lagi akan ada yang harus
membelah perut atau dadanya, sebab sejak dilahirkan Tuhan sudah
mempersiapkannya supaya menjalankan risalahNya. Dermenghem berpendapat,
bahwa cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui
orang dari teks ayat yang berbunyi: "Bukankah sudah Kami lapangkan
dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang telah memberati
punggungmu?" (Qur'an 94: 1-3)
Apa yang telah diisyaratkan Qur'an itu
adalah dalam arti rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan
(menyucikan) dan mencuci hati yang akan menerima Risalah Kudus,
kemudian meneruskannya seikhlas-ikhlasnya, dengan menanggung segala
beban karena Risalah yang berat itu.
Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum
Orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri
hidup Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat peri
kemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat kenabiannya itu memang
tidak perlu ia harus bersandar kepada apa yang biasa dilakukan oleh
mereka yang suka kepada yang ajaib-ajaib. Dengan demikian mereka
beralasan sekali menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum
Muslimin tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu. Mereka
berpendapat bahwa apa yang dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa
yang diminta oleh Qur'an supaya merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa
undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai dengan
ekspresi Qur'an tentang kaum Musyrik yang tidak mau mendalami dan tidak
mau mengerti juga.
Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'd sampai
mencapai usia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan
dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar
mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia mengatakan
kepada teman-temannya kemudian: "Aku yang paling fasih di antara kamu
sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah Keluarga Sa'd
bin Bakr."
Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah
memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian
juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih
sayang dan hormat selama hidupnya itu.
Penduduk daerah itu pernah mengalami suatu
masa paceklik sesudah perkawinan Muhammad dengan Khadijah. Bilamana
Halimah kemudian mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali dengan harta
Khadijah berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor kambing. Dan
setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang paling berharga
untuk tempat duduk Ibu Halimah sebagai tanda penghormatan. Ketika
Syaima, puterinya berada di bawah tawanan bersama-sama pihak Hawazin
setelah Ta'if dikepung, kemudian dibawa kepada Muhammad, ia segera
mengenalnya. Ia dihormati dan dikembalikan kepada keluarganya sesuai
dengan keinginan wanita itu.
Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad
kembali kepada ibunya. Dikatakan juga, bahwa Halimah pernah mencari
tatkala ia sedang membawanya pulang ketempat keluarganya tapi tidak
menjumpainya. Ia mendatangi Abd'l-Muttalib dan memberitahukan bahwa
Muhammad telah sesat jalan ketika berada di hulu kota Mekah. Lalu
Abd'l-Muttalibpun menyuruh orang mencarinya, yang akhirnya dikembalikan
oleh Waraqa bin Naufal, demikian setengah orang berkata.
Di Bawah Asuhan Abd'l-Muttalib
Kemudian
Abd'l-Muttalib yang bertindak mengasuh cucunya itu. Ia memeliharanya
sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucu ini.
Biasanya buat orang tua itu - pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin
Mekah - diletakkannya hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Ka'bah,
dan anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai
penghormatan kepada orang tua. Tetapi apabila Muhammad yang datang maka
didudukkannya ia di sampingnya diatas hamparan itu sambil ia
mengelus-ngelus punggungnya. Melihat betapa besarnya rasa cintanya itu
paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya di belakang dari tempat
mereka duduk itu.
Lebih-lebih lagi kecintaan kakek itu kepada
cucunya ketika Aminah kemudian membawa anaknya itu ke Medinah untuk
diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga
Najjar.
Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm
Aiman, budak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka
di Medinah kepada anak itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal
dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali ia
merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali juga ibunya pernah
menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu, yang
setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia
di tengah-tengah pamannya dari pihak ibu. Sesudah Hijrah pernah juga
Nabi menceritakan kepada sahabat-sahabatnya kisah perjalanannya yang
pertama ke Medinah dengan ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada
Medinah, kisah yang penuh duka pada orang yang ditinggalkan
keluarganya.
Aminah Wafat
Sesudah
cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah sudah bersiap-siap
akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang
membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka
sampai di Abwa'2 ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal
dan dikuburkan pula di tempat itu.
Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke
Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin
merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya
hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia
mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih
dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk
tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini
dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.
Lebih-lebih lagi kecintaan Abd'l-Muttalib
kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak
yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga
di dalam Qur'anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan
nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu: "Bukankah engkau dalam keadaan
yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan
menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?"
(Qur'an, 93: 6-7)
Abd'l-Muttalib Wafat
Kenangan
yang memilukan hati ini barangkali akan terasa agak meringankan juga
sedikit, sekiranya Abd'l-Muttalib masih dapat hidup lebih lama lagi.
Tetapi orang tua itu juga meninggal, dalam usia delapanpuluh tahun,
sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi
Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang
sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia,
sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai
ketempat peraduan terakhir.
Bahkan sesudah itupun ia masih tetap
mengenangkannya sekalipun sesudah itu, di bawah asuhan Abu Talib
pamannya ia mendapat perhatian dan pemeliharaan yang baik sekali,
mendapat perlindungan sampai masa kenabiannya, yang terus demikian
sampai pamannya itupun akhirnya meninggal.
Sebenarnya kematian Abd'l-Muttalib ini
merupakan pukulan berat bagi Keluarga Hasyim semua. Di antara
anak-anaknya itu tak ada yang seperti dia: mempunyai keteguhan hati,
kewibawaan, pandangan yang tajam, terhormat dan berpengaruh di kalangan
Arab semua. Dia menyediakan makanan dan minuman bagi mereka yang
datang berziarah, memberikan bantuan kepada penduduk Mekah bila mereka
mendapat bencana. Sekarang ternyata tak ada lagi dari anak-anaknya itu
yang akan dapat meneruskan. Yang dalam keadaan miskin, tidak mampu
melakukan itu, sedang yang kaya hidupnya kikir sekali. Oleh karena itu
maka Keluarga Umaya yang lalu tampil ke depan akan mengambil tampuk
pimpinan yang memang sejak dulu diinginkan itu, tanpa menghiraukan
ancaman yang datang dari pihak Keluarga Hasyim.
Di Bawah Asuhan Abu Talib
Pengasuhan
Muhammad di pegang oleh Abu Talib, sekalipun dia bukan yang tertua di
antara saudara-saudaranya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak
seberapa mampu. Sebaliknya Abbas yang mampu, tapi dia kikir sekali
dengan hartanya. Oleh karena itu ia hanya memegang urusan siqaya
(pengairan) tanpa mengurus rifada (makanan). Sekalipun dalam
kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan
terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau
Abd'l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu Talib.
Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama
seperti Abd'l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan
kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang
luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik
hati pamannya. Pernah pada suatu ketika ia akan pergi ke Syam membawa
dagangan - ketika itu usia Muhammad baru duabelas tahun - mengingat
sulitnya perjalanan menyeberangi padang pasir, tak terpikirkan olehnya
akan membawa Muhammad. Akan tetapi Muhammad yang dengan ikhlas
menyatakan akan menemani pamannya itu, itu juga yang menghilangkan sikap
ragu-ragu dalam hati Abu Talib.
Pergi Ke Suria Dalam Usia Duabelas Tahun
Anak
itu lalu turut serta dalam rombongan kafilah, hingga sampai di Bushra
di sebelah selatan Syam. Dalam buku-buku riwayat hidup Muhammad
diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib
Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya
sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber
menceritakan, bahwa rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan
terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang
Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.
Dalam perjalanan itulah sepasang mata
Muhammad yang indah itu melihat luasnya padang pasir, menatap
bintang-bintang yang berkilauan di langit yang jernih cemerlang.
Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadit'l-Qura serta peninggalan
bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dengan telinganya yang tajam
segala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang
bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan
ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan
buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan
kebun-kebun di Ta'if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman
yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan
gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam ini juga Muhammad
mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya,
didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari
penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan
Persia.
Sekalipun usianya baru dua belas tahun,
tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan dan
ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam dan ingatan
yang cukup kuat serta segala sifat-sifat semacam itu yang diberikan
alam kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima risalah (misi)
maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke sekeliling, dengan
sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang
didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah
kebenaran dari semua itu?
Tampaknya Abu Talib tidak banyak membawa
harta dari perjalanannya itu. Ia tidak lagi mengadakan perjalanan
demikian. Malah sudah merasa cukup dengan yang sudah diperolehnya itu.
Ia menetap di Mekah mengasuh anak-anaknya yang banyak sekalipun dengan
harta yang tidak seberapa. Muhammad juga tinggal dengan pamannya,
menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan
oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia
tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke
pekan-pekan yang berdekatan dengan 'Ukaz, Majanna dan Dhu'l-Majaz,
mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair
Mudhahhabat dan Mu'allaqat3. Pendengarannya terpesona oleh sajak-sajak
yang fasih melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan
nenek moyang mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa
mereka. Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi
dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang
Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut
keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya,
dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan
keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.
Dengan demikian sejak muda-belia takdir
telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat
bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan
memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran
dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Perang Fijar
Kalau
Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya
Abu Talib, sudah mendengar para penyair, ahli-ahli pidato membacakan
sajak-sajak dan pidato-pidato dengan keluarganya dulu di pekan sekitar
Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti
memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang
Fijar. Dan Perang Fijar itulah di antaranya yang telah menimbulkan dan
ada sangkut-pautnya dengan peperangan di kalangan kabilah-kabilah Arab.
Dinamakan Al-Fijar4 ini karena ia terjadi dalam bulan-bulan suci, pada
waktu kabilah-kabilah seharusnya tidak boleh berperang. Pada waktu
itulah pekan-pekan dagang diadakan di 'Ukaz, yang terletak antara Ta'if
dengan Nakhla dan antara Majanna dengan Dhu'l-Majaz, tidak jauh dari
'Arafat. Mereka di sana saling tukar menukar perdagangan, berlumba dan
berdiskusi, sesudah itu kemudian berziarah ke tempat berhala-berhala
mereka di Ka'bah. Pekan 'Ukaz adalah pekan yang paling terkenal di
antara pekan-pekan Arab lainnya. Di tempat itu penyair-penyair terkemuka
membacakan sajak-sajaknya yang terbaik, di tempat itu Quss (bin
Sa'ida) berpidato dan di tempat itu pula orang-orang Yahudi, Nasrani
dan penyembah-penyembah berhala masing-masing mengemukakan pandangan
dengan bebas, sebab bulan itu bulan suci.
Akan tetapi Barradz bin Qais dari kabilah
Kinana tidak lagi menghormati bulan suci itu dengan mengambil
kesempatan membunuh 'Urwa ar-Rahhal bin 'Utba dari kabilah Hawazin.
Kejadian ini disebabkan oleh karena Nu'man bin'l-Mundhir setiap tahun
mengirimkan sebuah kafilah dari Hira ke 'Ukaz membawa muskus, dan
sebagai gantinya akan kembali dengan membawa kulit hewan, tali, kain
tenun sulam Yaman. Tiba-tiba Barradz tampil sendiri dan membawa kafilah
itu ke bawah pengawasan kabilah Kinana. Demikian juga 'Urwa lalu tampil
pula sendiri dengan melintasi jalan Najd menuju Hijaz.
Adapun pilihan Nu'man terhadap 'Urwa
(Hawazin) ini telah menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana), yang
kemudian mengikutinya dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil
kabilah itu. Sesudah itu kemudian Barradz memberitahukan kepada Basyar
bin Abi Hazim, bahwa pihak Hawazin akan menuntut balas kepada Quraisy.
Fihak Hawazin segera menyusul Quraisy sebelum masuknya bulan suci. Maka
terjadilah perang antara mereka itu. Pihak Quraisy mundur dan
menggabungkan diri dengan pihak yang menang di Mekah. Pihak Hawazin
memberi peringatan bahwa tahun depan perang akan diadakan di 'Ukaz.
Perang demikian ini berlangsung antara
kedua belah pihak selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan
suatu perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia
lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu
kepada pihak lain. Maka dengan demikian Quraisy telah membayar
kompensasi sebanyak duapuluh orang Hawazin. Nama Barradz ini kemudian
menjadi peribahasa yang menggambarkan kemalangan. Sejarah tidak
memberikan kepastian mengenai umur Muhammad pada waktu Perang Fijar itu
terjadi. Ada yang mengatakan umurnya limabelas tahun, ada juga yang
mengatakan duapuluh tahun. Mungkin sebab perbedaan ini karena perang
tersebut berlangsung selama empat tahun. Pada tahun permulaan ia
berumur limabelas tahun dan pada tahun berakhirnya perang itu ia sudah
memasuki umur duapuluh tahun.
Juga orang berselisih pendapat mengenai
tugas yang dipegang Muhammad dalam perang itu. Ada yang mengatakan
tugasnya mengumpulkan anak-anak panah yang datang dari pihak Hawazin
lalu di berikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali kepada
pihak lawan. Yang lain lagi berpendapat, bahwa dia sendiri yang ikut
melemparkan panah. Tetapi, selama peperangan tersebut telah berlangsung
sampai empat tahun, maka kebenaran kedua pendapat itu dapat saja
diterima. Mungkin pada mulanya ia mengumpulkan anak-anak panah itu untuk
pamannya dan kemudian dia sendiripun ikut melemparkan. Beberapa tahun
sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu
dengan berkata: "Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga
ikut melemparkan panah dalam perang itu; sebab aku tidak suka kalau
tidak juga aku ikut melaksanakan."
Sesudah Perang Fijar Quraisy merasakan
sekali bencana yang menimpa mereka dan menimpa Mekah seluruhnya, yang
disebabkan oleh perpecahan, sesudah Hasyim dan 'Abd'l-Muttalib wafat,
dan masing-masing pihak berkeras mau jadi yang berkuasa. Kalau tadinya
orang-orang Arab itu menjauhi, sekarang mereka berebut mau berkuasa.
Atas anjuran Zubair bin 'Abd'l-Muttalib di rumah Abdullah bin Jud'an
diadakan pertemuan dengan mengadakan jamuan makan, dihadiri oleh
keluarga-keluarga Hasyim, Zuhra dan Taym. Mereka sepakat dan berjanji
atas nama Tuhan Maha Pembalas, bahwa Tuhan akan berada di pihak yang
teraniaya sampai orang itu tertolong. Muhammad menghadiri pertemuan itu
yang oleh mereka disebut Hilf'l-Fudzul. Ia mengatakan, "Aku tidak suka
mengganti fakta yang kuhadiri di rumah Ibn Jud'an itu dengan jenis
unta yang baik. Kalau sekarang aku diajak pasti kukabulkan."
Seperti kita lihat, Perang Fijar itu
berlangsung hanya beberapa hari saja tiap tahun. Sedang selebihnya
masyarakat Arab kembali ke pekerjaannya masing-masing. Pahit-getirnya
peperangan yang tergores dalam hati mereka tidak akan menghalangi
mereka dari kegiatan perdagangan, menjalankan riba, minum minuman keras
serta pelbagai macam kesenangan dan hiburan sepuas-puasnya
Adakah juga Muhammad ikut serta dengan
mereka dalam hal ini? Ataukah sebaliknya perasaannya yang halus,
kemampuannya yang terbatas serta asuhan pamannya membuatnya jadi
menjauhi semua itu, dan melihat segala kemewahan dengan mata bernafsu
tapi tidak mampu? Bahwasanya dia telah menjauhi semua itu, sejarah
cukup menjadi saksi. Yang terang ia menjauhi itu bukan karena tidak
mampu mencapainya. Mereka yang tinggal di pinggiran Mekah, yang tidak
mempunyai mata pencarian, hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, ikut
hanyut juga dalam hiburan itu. Bahkan di antaranya lebih gila lagi dari
pemuka-pemuka Mekah dan bangsawan-bangsawan Quraisy dalam
menghanyutkan diri ke dalam kesenangan demikian itu.
Akan tetapi jiwa Muhammad adalah jiwa yang
ingin melihat, ingin mendengar, ingin mengetahui. Dan seolah tidak ikut
sertanya ia belajar seperti yang dilakukan teman-temannya dari
anak-anak bangsawan menyebabkan ia lebih keras lagi ingin memiliki
pengetahuan. Karena jiwanya yang besar, yang kemudian pengaruhnya
tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang selalu mendambakan
kesempurnaan, itu jugalah yang menyebabkan dia menjauhi foya-foya, yang
biasa menjadi sasaran utama pemduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup
yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan
dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh
julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam
dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak gejala kesempurnaan,
kedewasaan dan kejujuran hati sudah tampak, sehingga penduduk Mekah
semua memanggilnya Al-Amin (artinya 'yang dapat dipercaya').
Menggembala Kambing
Yang
menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya
menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia
menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan
rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu
menggembala itu. Di antaranya ia berkata: "Nabi-nabi yang diutus Allah
itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala
kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala
kambing keluargaku di Ajyad."
Gembala kambing yang berhati terang itu,
dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila
malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk
pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian
itu, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam
pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang
penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri. Karena hatinya yang
terang, jantungnya yang hidup, ia melihat dirinya tidak terpisah dari
alam semesta itu. Bukankah juga ia menghirup udaranya, dan kalau tidak
demikian berarti kematian? Bukankah ia dihidupkan oleh sinar matahari,
bermandikan cahaya bulan dan kehadirannya berhubungan dengan
bintang-bintang dan dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan semesta
alam yang tampak membentang di depannya, berhubungan satu dengan yang
lain dalam susunan yang sudah ditentukan, matahari tiada seharusnya
dapat mengejar bulan atau malam akan mendahului siang. Apabila kelompok
kambing yang ada di depan Muhammad itu memintakan kesadaran dan
perhatiannya supaya jangan ada serigala yang akan menerkam domba itu,
jangan sampai - selama tugasnya di pedalaman itu - ada domba yang
sesat, maka kesadaran dan kekuatan apakah yang menjaga susunan alam
yang begitu kuat ini?
Pemikiran dan permenungan demikian membuat
ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih
tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak
jelas di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan
tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah
diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang begitu adanya:
Al-Amin.
Semua ini dibuktikan oleh keterangan yang
diceritakannya kemudian, bahwa ketika itu ia sedang menggembala kambing
dengan seorang kawannya. Pada suatu hari hatinya berkata, bahwa ia
ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal ini dikatakannya
kepada kawannya pada suatu senja, bahwa ia ingin turun ke Mekah,
bermain-main seperti para pemuda di gelap malam, dan dimintanya
kawannya menjagakan kambing ternaknya itu. Tetapi sesampainya di ujung
Mekah, perhatiannya tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir
di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya
datang lagi ia ke Mekah, dengan maksud yang sama. Terdengar olehnya
irama musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia duduk
mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.
Jadi apakah gerangan pengaruh segala daya
penarik Mekah itu terhadap kalbu dan jiwa yang begitu padat oleh
pikiran dan renungan? Gerangan apa pula artinya segala daya penarik
yang kita gambarkan itu yang juga tidak disenangi oleh mereka yang
martabatnya jauh di bawah Muhammad?
Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang
sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau
merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja
sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup
yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah
Muhammad mempedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan
diri dari segala pengaruh materi. Apa gunanya ia mengejar itu padahal
sudah menjadi bawaannya ia tidak pernah tertarik? Yang diperlukannya
dalam hidup ini asal dia masih dapat menyambung hidupnya.
Bukankah dia juga yang pernah berkata:
"Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila
sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal
orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira
menghadapi penderitaan hidup? Cara orang mengejar harta dengan serakah
hendak memenuhi hawa nafsunya, sama sekali tidak pernah dikenal
Muhammad selama hidupnya. Kenikmatan jiwa yang paling besar, ialah
merasakan adanya keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya.
Suatu kenikmatan besar, yang hanya sedikit saja dikenal orang.
Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang
mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah
kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang mengajak orang hidup
tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ayahnya
ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian
kematian kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta
kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat.
sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia memelihara diri dan
menyesuaikannya dengan kehidupan batin.
Andaikata pada waktu itu Muhammad dibiarkan
saja begitu, tentu takkan tertarik ia kepada harta. Dengan keadaannya
itu ia akan tetap bahagia, seperti halnya dengan gembala-gembala
pemikir, yang telah menggabungkan alam ke dalam diri mereka dan telah
pula mereka berada dalam pelukan kalbu alam.
Akan tetapi Abu Talib pamannya - seperti
sudah kita sebutkan tadi -hidup miskin dan banyak anak. Dari
kemenakannya itu ia mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki
yang akan diperoleh dari pemilik-pemilik kambing yang kambingnya
digembalakan. Suatu waktu ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti
Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan
perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan
dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu.
Berasal dari Keluarga (Banu) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali
ia kawin dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk
Mekah yang terkaya. Ia menjalankan dagangannya itu dengan bantuan
ayahnya Khuwailid dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka
Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu
melamar hanya karena memandang hartanya. Sungguhpun begitu usahanya itu
terus dikembangkan.
Ke Suria Membawa Dagangan Khadijah
Tatkala
Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan
yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil kemenakannya -
yang ketika itu sudah berumur duapuluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Talib, "aku bukan orang
berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa
Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak
setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau
hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah
Muhammad?" tanya Abu Talib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan
dua ekor anak unta Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari
empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang
jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat
dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada kemenakannya
dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan
Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasehat paman-pamannya
Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan
padang pasir kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui
Wadi'l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang dulu
pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala umurnya baru
duabelas tahun.
Perjalanan sekali ini telah menghidupkan
kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini
menambah dia lebih banyak bermenung, lebih banyak berpikir tentang
segala yang pernah dilihat, yang pernah didengar sebelumnya: tentang
peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar
sekeliling Mekah.
Setelah sampai di Bushra ia bertemu dengan
agama Nasrani Syam. Ia bicara dengan rahib-rahib dan pendeta-pendeta
agama itu, dan seorang rahib Nestoria juga mengajaknya bicara.
Barangkali dia atau rahib-rahib lain pernah juga mengajak Muhammad
berdebat tentang agama Isa, agama yang waktu itu sudah berpecah-belah
menjadi beberapa golongan dan sekta-sekta - seperti sudah kita uraikan
di atas.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata
Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan
cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang
dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang
manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan
penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan
kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira
akan disukai oleh Khadijah.
Dalam perjalanan kembali kafilah itu
singgah di Marr'-z-Zahran. Ketika itu Maisara berkata: "Muhammad,
cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia
akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah hari sudah
sampai di Mekah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila
dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya.
ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa
yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya,
demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah
gembira dan tertarik sekali mendengarkan. Sesudah itu Maisarapun datang
pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya
wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah
pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda
Mekah yang besar jasanya.
Perkawinannya Dengan Khadijah
Dalam
waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa
cinta, sehingga dia - yang sudah berusia empatpuluh tahun, dan yang
sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar
Quraisy - tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata
dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan
hal itu kepada saudaranya yang perempuan - kata sebuah sumber, atau
dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya - kata sumber lain. Nufaisa
pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: "Kenapa kau tidak mau kawin?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: "Khadijah."
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad.
Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya
belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak
permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa
mengatakan: "Serahkan hal itu kepadaku," maka iapun menyatakan
persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang
kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu
dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari perkawinan.
Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan
diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya
sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah
membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak
menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman
keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad
kemudian dilangsungkan.
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam
kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan
ibu-bapa, suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak,
dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak
sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapa
semasa ia masih kecil.
Sumber : http://www.sejarahnabi.net/
Catatan kaki:
[1] Muhammad atau Mahmud artinya yang terpuji (A).
[2] Abwa' ialah sebuah desa antara Medinah dengan Juhfa, jaraknya 23 mil (37 km) dari Medinah.
[3]
Al-Mu'allaqat nama yang diberikan kepada tujuh buah kumpulan puisi
Arab pra Islam yang dianggap terbaik, oleh tujuh penyair: Imr'l-Qais,
Tarafa, Zuhair, Labid, 'Antara, 'Amr ibn Kulthum dan Harith ibn
Hilizza. Mu'allaqat berarti 'yang digantungkan' yakni sajak-sajak yang
ditulis dengan tinta emas (almudhahhab) di atas kain lina (A).
[4] Pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku (A).
Label:
Siroh Nabawiyah
|
1 komentar
Siroh Nabawi
07:10 | Diposting oleh
Unknown
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
BAB IV
PERKAWINAN - MASA KERASULAN
Perawakan dan Sifat-sifat Muhammad
Dengan
duapuluh ekor unta muda sebagai mas kawin Muhammad melangsungkan
perkawinannya itu dengan Khadijah. Ia pindah ke rumah Khadijah dalam
memulai hidup barunya itu, hidup suami-isteri dan ibu-bapa, saling
mencintai cinta sebagai pemuda berumur duapuluh lima tahun. Ia tidak
mengenal nafsu muda yang tak terkendalikan, juga ia tidak mengenal
cinta buta yang dimulai seolah nyala api yang melonjak-lonjak untuk
kemudian padam kembali. Dari perkawinannya itu ia beroleh beberapa
orang anak, laki-laki dan perempuan. Kematian kedua anaknya, al-Qasim
dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib1 telah menimbulkan rasa duka yang dalam
sekali. Anak-anak yang masih hidup semua perempuan. Bijaksana sekali
ia terhadap anak-anaknya dan sangat lemah-lembut. Merekapun sangat
setia dan hormat kepadanya.
Paras mukanya manis dan indah, Perawakannya
sedang, tidak terlampau tinggi, juga tidak pendek, dengan bentuk
kepala yang besar, berambut hitam sekali antara keriting dan lurus.
Dahinya lebar dan rata di atas sepasang alis yang lengkung lebat dan
bertaut, sepasang matanya lebar dan hitam, di tepi-tepi putih matanya
agak ke merah-merahan, tampak lebih menarik dan kuat: pandangan matanya
tajam, dengan bulu-mata yang hitam-pekat. Hidungnya halus dan merata
dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebar sekali,
berleher panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang.
Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan
kakinya yang tebal.
Bila berjalan badannya agak condong
kedepan, melangkah cepat-cepat dan pasti. Air mukanya membayangkan
renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya menunjukkan kewibawaan,
membuat orang patuh kepadanya.
Dengan sifatnya yang demikian itu tidak
heran bila Khadijah cinta dan patuh kepadanya, dan tidak pula
mengherankan bila Muhammad dibebaskan mengurus hartanya dan dia sendiri
yang memegangnya seperti keadaannya semula dan membiarkannya
menggunakan waktu untuk berpikir dan berenung.
Muhammad yang telah mendapat kurnia Tuhan
dalam perkawinannya dengan Khadijah itu berada dalam kedudukan yang
tinggi dan harta yang cukup. Seluruh penduduk Mekah memandangnya dengan
rasa gembira dan hormat. Mereka melihat karunia Tuhan yang diberikan
kepadanya serta harapan akan membawa turunan yang baik dengan Khadijah.
Tetapi semua itu tidak mengurangi pergaulannya dengan mereka. Dalam
hidup hari-hari dengan mereka partisipasinya tetap seperti sediakala.
Bahkan ia lebih dihormati lagi di tengah-tengah mereka itu. Sifatnya
yang sangat rendah hati lebih kentara lagi. Bila ada yang mengajaknya
bicara ia mendengarkan hati-hati sekali tanpa menoleh kepada orang
lain. Tidak saja mendengarkan kepada yang mengajaknya bicara, bahkan ia
rnemutarkan seluruh badannya. Bicaranya sedikit sekali, lebih banyak ia
mendengarkan. Bila bicara selalu bersungguh-sungguh, tapi sungguhpun
begitu iapun tidak melupakan ikut membuat humor dan bersenda-gurau,
tapi yang dikatakannya itu selalu yang sebenarnya. Kadang ia tertawa
sampai terlihat gerahamnya. Bila ia marah tidak pernah sampai tampak
kemarahannya, hanya antara kedua keningnya tampak sedikit berkeringat.
Ini disebabkan ia menahan rasa amarah dan tidak mau menampakkannya
keluar. Semua itu terbawa oleh kodratnya yang selalu lapang dada,
berkemauan baik dan menghargai orang lain. Bijaksana ia, murah hati dan
mudah bergaul. Tapi juga ia mempunyai tujuan pasti, berkemauan keras,
tegas dan tak pernah ragu-ragu dalam tujuannya. Sifat-sifat demikian
ini berpadu dalam dirinya dan meninggalkan pengaruh yang dalam sekali
pada orang-orang yang bergaul dengan dia. Bagi orang yang melihatnya
tiba-tiba, sekaligus akan timbul rasa hormat, dan bagi orang yang
bergaul dengan dia akan timbul rasa cinta kepadanya.
Alangkah besarnya pengaruh yang terjalin
dalam hidup kasih-sayang antara dia dengan Khadijah sebagai isteri yang
sungguh setia itu.
Penduduk Mekah Membangun Ka'bah
Pergaulan
Muhammad dengan penduduk Mekah tidak terputus, juga partisipasinya
dalam kehidupan masyarakat hari-hari. Pada waktu itu masyarakat sedang
sibuk karena bencana banjir besar yang turun dari gunung, pernah menimpa
dan meretakkan dinding-dinding Ka'bah yang memang sudah rapuk. Sebelum
itupun pihak Quraisy memang sudah memikirkannya. Tempat yang tidak
beratap itu menjadi sasaran pencuri mengambil barang-barang berharga di
dalamnya. Hanya saja Quraisy merasa takut; kalau bangunannya
diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi beratap, dewa Ka'bah yang
suci itu akan menurunkan bencana kepada mereka. Sepanjang zaman
Jahiliah keadaan mereka diliputi oleh pelbagai macam legenda yang
mengancam barangsiapa yang berani mengadakan sesuatu perubahan. Dengan
demikian perbuatan itu dianggap tidak umum.
Tetapi sesudah mengalami bencana banjir
tindakan demikian itu adalah suatu keharusan, walaupun masih serba
takut-takut dan ragu-ragu. Suatu peristiwa kebetulan telah terjadi
sebuah kapal milik seorang pedagang Rumawi bernama Baqum2 yang datang
dari Mesir terhempas di laut dan pecah. Sebenarnya Baqum ini seorang
ahli bangunan yang mengetahui juga soal-soal perdagangan. Sesudah
Quraisy mengetahui hal ini, maka berangkatlah al-Walid bin'l-Mughira
dengan beberapa orang dari Quraisy ke Jidah. Kapal itu dibelinya dari
pemiliknya, yang sekalian diajaknya berunding supaya sama-sama datang ke
Mekah guna membantu mereka membangun Ka'bah kembali. Baqum menyetujui
permintaan itu. Pada waktu itu di Mekah ada seorang Kopti yang
mempunyai keahlian sebagai tukang kayu. Persetujuan tercapai bahwa
diapun akan bekerja dengan mendapat bantuan Baqum.
Sudut-sudut Ka'bah itu oleh Quraisy dibagi
empat bagian tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan
dibangun kembali. Sebelum bertindak melakukan perombakan itu mereka
masih ragu-ragu, kuatir akan mendapat bencana. Kemudian al-Walid
bin'l-Mughira tampil ke depan dengan sedikit takut-takut. Setelah ia
berdoa kepada dewa-dewanya mulai ia merombak bagian sudut selatan3.
Tinggal lagi orang menunggu-nunggu apa yang akan dilakukan Tuhan nanti
terhadap al-Walid. Tetapi setelah ternyata sampai pagi tak terjadi
apa-apa, merekapun ramai-ramai merombaknya dan memindahkan batu-batu
yang ada. Dan Muhammad ikut pula membawa batu itu.
Setelah mereka berusaha membongkar batu
hijau yang terdapat di situ dengan pacul tidak berhasil, dibiarkannya
batu itu sebagai fondasi bangunan. Dan gunung-gunung sekitar tempat itu
sekarang orang-orang Quraisy mulai mengangkuti batu-batu granit
berwarna biru, dan pembangunanpun segera dimulai. Sesudah bangunan itu
setinggi orang berdiri dan tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad yang
disucikan di tempatnya semula di sudut timur, maka timbullah
perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya mendapat
kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya. Demikian memuncaknya
perselisihan itu sehingga hampir saja timbul perang saudara karenanya.
Keluarga Abd'd-Dar dan keluarga 'Adi bersepakat takkan membiarkan
kabilah yang manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar ini.
Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga Abd'd-Dar membawa
sebuah baki berisi darah. Tangan mereka dimasukkan ke dalam baki itu
guna memperkuat sumpah mereka. Karena itu lalu diberi nama
La'aqat'd-Dam, yakni 'jilatan darah.'
Abu Umayya bin'l-Mughira dari Banu Makhzum,
adalah orang yang tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi.
Setelah melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka:
"Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini."
Putusan Muhammad Tentang Hajar Aswad
Tatkala
mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki tempat itu,
mereka berseru: "Ini al-Amin; kami dapat menerima keputusannya."
Lalu mereka menceritakan peristiwa itu
kepadanya. Iapun mendengarkan dan sudah melihat di mata mereka betapa
berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu katanya:
"Kemarikan sehelai kain," katanya. Setelah kain dibawakan
dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu diletakkannya dengan
tangannya sendiri, kemudian katanya; "Hendaknya setiap ketua kabilah
memegang ujung kain ini."
Mereka bersama-sama membawa kain tersebut
ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu itu
dari kain dan meletakkannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan
itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan.
Quraisy menyelesaikan bangunan Ka'bah
sampai setinggi delapanbelas hasta (± 11 meter), dan ditinggikan dari
tanah sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menyuruh atau melarang
orang masuk. Di dalam itu mereka membuat enam batang tiang dalam dua
deretan dan di sudut barat sebelah dalam dipasang sebuah tangga naik
sampai ke teras di atas lalu meletakkan Hubal di dalam Ka'bah. Juga di
tempat itu diletakkan barang-barang berharga lainnya, yang sebelum
dibangun dan diberi beratap menjadi sasaran pencurian.
Mengenai umur Muhammad waktu membina Ka'bah
dan memberikan keputusannya tentang batu itu, masih terdapat perbedaan
pendapat. Ada yang mengatakan berumur duapuluh lima tahun. Ibn Ishaq
berpendapat umurnya tigapuluh lima tahun. Kedua pendapat itu baik yang
pertama atau yang kemudian, sama saja; tapi yang jelas cepatnya Quraisy
menerima ketentuan orang yang pertama memasuki pintu Shafa, disusul
dengan tindakannya mengambil batu dan diletakkan di atas kain lalu
mengambilnya dari kain dan diletakkan di tempatnya dalam Ka'bah,
menunjukkan betapa tingginya kedudukannya dimata penduduk Mekah, betapa
besarnya penghargaan mereka kepadanya sebagai orang yang berjiwa besar.
Adanya pertentangan antar-kabilah, adanya
persepakatan La'aqat'd-Dam ('Jilatan Darah'), dan menyerahkan putusan
kepada barangsiapa mula-mula memasuki pintu Shafa, menunjukkan bahwa
kekuasaan di Mekah sebenarnya sudah jatuh.
Kekuasaan yang dulu ada pada Qushayy,
Hasyim dan Abd'l-Muttalib sekarang sudah tak ada lagi. Adanya
pertentangan kekuasaan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayya
sesudah matinya Abd'l-Muttalib besar sekali pengaruhnya.
Pemikir-pemikir Quraisy dan Paganisma
Dengan
jatuhnya kekuasaan demikian itu sudah wajar sekali akan membawa akibat
buruk terhadap Mekah, kalau saja tidak karena adanya rasa kudus dalam
hati semua orang Arab terhadap Rumah Purba itu. Dan jatuhnya kekuasaan
itupun membawa akibat secara wajar pula, yakni menambah adanya
kemerdekaan berpikir dan kebebasan menyatakan pendapat, dan menimbulkan
keberanian pihak Yahudi dan kaum Nasrani mencela orang-orang Arab yang
masih menyembah berhala itu - suatu hal yang tidak akan berani mereka
lakukan sewaktu masih ada kekuasaan. Hal ini berakhir dengan hilangnya
pemujaan berhala-berhala itu dalam hati penduduk Mekah dan orang-orang
Quraisy sendiri, meskipun pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Mekah
masih memperlihatkan adanya pemujaan dan penyembahan demikian itu.
Sikap mereka ini sebenamya berasalan sekali; sebab mereka melihat,
bahwa agama yang berlaku itu adalah salah satu alat yang akan menjaga
ketertiban serta menghindarkan adanya kekacauan berpikir. Dengan adanya
penyembahan-penyembahan berhala dalam Ka'bah, ini merupakan jaminan
bagi Mekah sebagai pusat keagamaan dan perdagangan. Dan memang
demikianlah sebenarnya, dibalik kedudukan ini Mekah dapat juga
menikmati kemakmuran dan hubungan dagangnya. Akan tetapi itu tidak akan
mengubah hilangnya pemujaan berhala-berhala dalam hati penduduk Mekah.
Ada beberapa keterangan yang menyebutkan,
bahwa pada suatu hari masyarakat Quraisy sedang berkumpul di Nakhla
merayakan berhala 'Uzza; empat orang di antara mereka diam-diam
meninggalkan upacara itu. Mereka itu ialah: Zaid b. 'Amr, Usman
bin'l-Huwairith, 'Ubaidullah b. Jahsy dan Waraqa b. Naufal.
Mereka satu sama lain berkata: "Ketahuilah
bahwa masyarakatmu ini tidak punya tujuan; mereka dalam kesesatan. Apa
artinya kita mengelilingi batu itu: memdengar tidak, melihat tidak,
merugikan tidak, menguntungkanpun juga tidak. Hanya darah korban yang
mengalir di atas batu itu. Saudara-saudara, marilah kita mencari agama
lain, bukan ini."
Dari antara mereka itu kemudian Waraqa
menganut agama Nasrani. Konon katanya dia yang menyalin Kitab Injil ke
dalam bahasa Arab. 'Ubaidullah b. Jahsy masih tetap kabur pendiriannya.
Kemudian masuk Islam dan ikut hijrah ke Abisinia. Di sana ia pindah
menganut agama Nasrani sampai matinya. Tetapi isterinya - Umm Habiba
bint Abi Sufyan - tetap dalam Islam, sampai kemudian ia menjadi salah
seorang isteri Nabi dan Umm'l-Mu'minin.
Zaid b. 'Amr malah pergi meninggalkan
isteri dan al-Khattab pamannya. Ia menjelajahi Syam dan Irak, kemudian
kembali lagi. Tetapi dia tidak mau menganut salah satu agama, baik
Yahudi atau Nasrani. Juga dia meninggalkan agama masyarakatnya dan
menjauhi berhala. Dialah yang berkata, sambil bersandar ke dinding
Ka'bah: "Ya Allah, kalau aku mengetahui, dengan cara bagaimana yang
lebih Kausukai aku menyembahMu, tentu akan kulakukan. Tetapi aku tidak
mengetahuinya."
Usman bin'l-Huwairith, yang masih
berkerabat dengan Khadijah, pergi ke Rumawi Timur dan memeluk agama
Nasrani. Ia mendapat kedudukan yang baik pada Kaisar Rumawi itu.
Disebutkan juga, bahwa ia mengharapkan Mekah akan berada di bawah
kekuasaan Rumawi dan dia berambisi ingin menjadi Gubernurnya. Tetapi
penduduk Mekah mengusirnya. Ia pergi minta perlindungan Banu Ghassan di
Syam. Ia bermaksud memotong perdagangan ke Mekah. Tetapi hadiah-hadiah
penduduk Mekah sampai juga kepada Banu Ghassan. Akhirnya ia mati di
tempat itu karena diracun.
Putera-puteri Muhammad
Selama
bertahun-tahun Muhammad tetap bersama-sama penduduk Mekah dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia menemukan dalam diri Khadijah
teladan wanita terbaik; wanita yang subur dan penuh kasih, menyerahkan
seluruh dirinya kepadanya, dan telah melahirkan anak-anak seperti:
al-Qasim dan Abdullah yang dijuluki at-Tahir dan at-Tayyib, serta
puteri-puteri seperti Zainab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah. Tentang
al-Qasim dan Abdullah tidak banyak yang diketahui, kecuali disebutkan
bahwa mereka mati kecil pada zaman Jahiliah dan tak ada meninggalkan
sesuatu yang patut dicatat. Tetapi yang pasti kematian itu meninggalkan
bekas yang dalam pada orangtua mereka. Demikian juga pada diri
Khadijah terasa sangat memedihkan hatinya.
Kematian putera-puterinya
Pada
tiap kematian itu dalam zaman Jahiliah tentu Khadijah pergi menghadap
sang berhala menanyakannya: kenapa berhalanya itu tidak memberikan
kasih-sayangnya, kenapa berhala itu tidak melimpahkan rasa kasihan,
sehingga dia mendapat kemalangan, ditimpa kesedihan berulang-ulang!?
Perasaan sedih karena kematian anak demikian sudah tentu dirasakan juga
oleh suaminya. Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup
terbayang pada isterinya, terlihat setiap ia pulang ke rumah
duduk-duduk di sampingnya
Tidak begitu sulit bagi kita akan menduga
betapa dalamnya rasa sedih demikian itu, pada suatu zaman yang
membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup dan menjaga
keturunan laki-laki sama dengan menjaga suatu keharusan hidup, bahkan
lebih lagi dan itu. Cukuplah jadi contoh betapa besarnya kesedihan itu,
Muhammad tak dapat menahan diri atas kehilangan tersebut, sehingga
ketika Zaid b. Haritha didatangkan dimintanya kepada Khadijah supaya
dibelinya kemudian dimerdekakannya. Waktu itu orang menyebutnya Zaid bin
Muhammad. Keadaan ini tetap demikian hingga akhirnya ia menjadi
pengikut dan sahabatnya yang terpilih. Juga Muhammad merasa sedih
sekali ketika kemudian anaknya, Ibrahim meninggal pula. Kesedihan
demikian ini timbul juga sesudah Islam mengharamkan menguburkan anak
perempuan hidup-hidup, dan sesudah menentukan bahwa sorga berada di
bawah telapak kaki ibu.
Sudah tentu malapetaka yang menimpa
Muhammad dengan kematian kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan
dan pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya tertuju
pada kemalangan yang datang satu demi satu itu menimpa, yang oleh
Khadijah dilakukan dengan membawakan sesajen buat berhala-berhala dalam
Ka'bah, menyembelih hewan buat Hubal, Lat, 'Uzza dan Manat, ketiga
yang terakhir4.
Ia ingin menebus bencana kesedihan yang
menimpanya. Akan tetapi, semua kurban-kurban dan penyembelihan itu
tidak berguna sama sekali.
Perkawinan Puteri-puterinya
Terhadap
anak-anaknya yang perempuan juga Muhammad memberikan perhatian, dengan
mengawinkan mereka kepada yang dianggapnya memenuhi syarat (kufu').
Zainab yang sulung dikawinkan dengan Abu'l-'Ash bin'r-Rabi' b.'Abd
Syams - ibunya masih bersaudara dengan Khadijah - seorang pemuda yang
dihargai masyarakat karena kejujuran dan suksesnya dalam dunia
perdagangan. Perkawinan ini serasi juga, sekalipun kemudian sesudah
datangnya Islam - ketika Zainab akan hijrah dan Mekah ke Medinah -
mereka terpisah, seperti yang akan kita lihat lebih terperinci nanti.
Ruqayya dan Umm Kulthum dikawinkan dengan 'Utba dan 'Utaiba anak-anak
Abu Lahab, pamannya. Kedua isteri ini sesudah Islam terpisah dari suami
mereka, karena Abu Lahab menyuruh kedua anaknya itu menceraikan isteri
mereka, yang kemudian berturut-turut menjadi isteri Usman5.
Ketika itu Fatimah masih kecil dan perkawinannya dengan Ali baru sesudah datangnya Islam.
Kehidupan Muhammad dalam usia demikian itu
ternyata tenteram adanya. Kalau tidak karena kehilangan kedua anaknya
itu tentu itulah hidup yang sungguh nikmat dirasakan bersama Khadijah,
yang setia dan penuh kasih, hidup sebagai ayah-bunda yang bahagia dan
rela. Oleh karena itu wajar sekali apabila Muhammad membiarkan dirinya
berjalan sesuai dengan bawaannya, bawaan berpikir dan bermenung, dengan
mendengarkan percakapan masyarakatnya tentang berhala-berhala, serta
apa pula yang dikatakan orang-orang Nasrani dan Yahudi tentang diri
mereka itu. Ia berpikir dan merenungkan. Di kalangan masyarakatnya
dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat
dan berbakat ini, jiwa yang sudah mempunyai persiapan kelak akan
menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya
kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa demikian tidak mungkin
berdiam diri saja melihat manusia yang sudah hanyut ke dalam lembah
kesesatan. Sudah seharusnya ia mencari petunjuk dalam alam semesta ini,
sehingga Tuhan nanti menentukannya sebagai orang yang akan menerima
risalahNya. Begitu besar dan kuatnya kecenderungan rohani yang ada
padanya, ia tidak ingin menjadikan dirinya sebangsa dukun atau ingin
menempatkan diri sebagai ahli pikir seperti dilakukan oleh Waraqa b.
Naufal dan sebangsanya. Yang dicarinya hanyalah kebenaran semata.
Pikirannya penuh untuk itu, banyak sekali ia bermenung. Pikiran dan
renungan yang berkecamuk dalam hatinya itu sedikit sekali dinyatakan
kepada orang lain.
Kecenderungan Muhammad Menyendiri
Sudah
menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa golongan berpikir
mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari keramaian
orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka dengan
bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan.
Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuf dan
tahannuth6.
Di tempat ini rupanya Muhammad mendapat
tempat yang paling baik guna mendalami pikiran dan renungan yang
berkecamuk dalam dirinya. Juga di tempat ini ia mendapatkan ketenangan
dalam dinnya serta obat penawar hasrat hati yang ingin menyendiri,
ingin mencari jalan memenuhi kerinduannya yang selalu makin besar,
ingin mencapai ma'rifat serta mengetahui rahasia alam semesta.
Menjauhi Dosa ke Gua Hira
Di
puncak Gunung Hira, - sejauh dua farsakh7 sebelah utara Mekah
-terletak sebuah gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan
tahannuth. Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana dan
berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya.
Ia tekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup
dan keributan manusia. Ia mencari Kebenaran, dan hanya kebenaran
semata.
Demikian kuatnya ia merenung mencari
hakikat kebenaran itu, sehingga lupa ia akan dirinya, lupa makan, lupa
segala yang ada dalam hidup ini. Sebab, segala yang dilihatnya dalam
kehidupan manusia sekitarnya, bukanlah suatu kebenaran. Di situ ia
mengungkapkan dalam kesadaran batinnya segala yang disadarinya. Tambah
tidak suka lagi ia akan segala prasangka yang pernah dikejar-kejar
orang.
Ia tidak berharap kebenaran yang dicarinya
itu akan terdapat dalam kisah-kisah lama atau dalam tulisan-tulisan
para pendeta, melainkan dalam alam sekitarnya: dalam luasan langit dan
bintang-bintang, dalam bulan dan matahari, dalam padang pasir di kala
panas membakar di bawah sinar matahari yang berkilauan. Atau di kala
langit yang jernih dan indah, bermandikan cahaya bulan dan bintang yang
sedap dan lembut, atau dalam laut dan deburan ombak, dan dalam segala
yang ada di balik itu, yang ada hubungannya dengan wujud ini, serta
diliputi seluruh kesatuan wujud. Dalam alam itulah ia mencari Hakekat
Tertinggi. Dalam usaha mencapai itu, pada saat-saat ia menyendiri
demikian jiwanya membubung tinggi akan mencapai hubungan dengan alam
semesta ini, menembusi tabir yang menyimpan semua rahasia. Ia tidak
memerlukan permenungan yang panjang guna mengetahui bahwa apa yang oleh
masyarakatnya dipraktekkan dalam soal-soal hidup dan apa yang
disajikan sebagai kurban-kurban untuk tuhan-tuhan mereka itu, tidak
membawa kebenaran sama sekali. Berhala-berhala yang tidak berguna, tidak
menciptakan dan tidak pula mendatangkan rejeki, tak dapat memberi
perlindungan kepada siapapun yang ditimpa bahaya. Hubal, Lat dan 'Uzza,
dan semua patung-patung dan berhala-berhala yang terpancang di dalam
dan di sekitar Ka'bah, tak pernah menciptakan, sekalipun seekor lalat,
atau akan mendatangkan suatu kebaikan bagi Mekah.
Tetapi! Ah, di mana gerangan kebenaran itu!
Gerangan di mana kebenaran dalam alam semesta yang luas ini, luas
dengan buminya, dengan lapisan-lapisan langit dan bintang-bintangnya?
Adakah barangkali dalam bintang yang berkelip-kelip, yang memancarkan
cahaya dan kehangatan kepada manusia, dari sana pula hujan diturunkan,
sehingga karenanya manusia dan semua makhluk yang ada di muka bumi ini
hidup dari air, dari cahaya dan kehangatan udara? Tidak!
Bintang-bintang itu tidak lain adalah benda-benda langit seperti bumi
ini juga. Atau barangkali di balik benda-benda itu terdapat eter yang
tak terbatas, tak berkesudahan?
Tetapi apa eter itu? Apa hidup yamg kita
alami sekarang, dan besok akan berkesudahan? Apa asalnya, dan apa
sumbernya? Kebetulan sajakah bumi ini dijadikan dan dijadikan pula kita
di dalamnya? Tetapi, baik bumi atau hidup ini sudah mempunyai
ketentuan yang pasti yang tak berubah-ubah, dan tidak mungkin bila
dasarnya hanya kebetulan saja. Apa yang dialami manusia, kebaikan atau
keburukan, datang atas kehendak manusia sendiri, ataukah itu sudah
bawaannya sendiri pula sehingga tak kuasa ia memilih yang lain?
Masalah-masalah kejiwaan dan kerohanian
serupa itu, itu juga yang dipikirkan Muhammad selama ia mengasingkan
diri dan bertekun dalam Gua Hira'. Ia ingin melihat Kebenaran itu dan
melihat hidup itu seluruhnya. Pemikirannya itu memenuhi jiwanya,
memenuhi jantungnya, pribadinya dan seluruh wujudnya. Siang dan malam
hal ini menderanya terus menerus. Bilamana bulan Ramadan sudah berlalu
dan ia kembali kepada Khadijah, pengaruh pikiran yang masih membekas
padanya membuat Khadijah menanyakannya selalu, karena diapun ingin lega
hatinya bila sudah diketahuinya ia dalam sehat dan afiat.
Dalam melakukan ibadat selama dalam
tahannuth itu adakah Muhammad menganut sesuatu syariat tertentu? Dalam
hal ini ulama-ulama berlainan pendapat. Dalam Tarikh-nya Ibn Kathir
menceritakan sedikit tentang pendapat-pendapat mereka mengenai syariat
yang digunakannya melakukan ibadat itu: Ada yang mengatakan menurut
syariat Nuh, ada yang mengatakan menurut Ibrahim, yang lain berkata
menurut syariat Musa, ada yang mengatakan menurut Isa dan ada pula yang
mengatakan, yang lebih dapat dipastikan, bahwa ia menganut sesuatu
syariat dan diamalkannya. Barangkali pendapat yang terakhir ini lebih
tepat daripada yang sebelumnya. Ini adalah sesuai dengan dasar renungan
dan pemikiran yang menjadi kedambaan Muhammad.
Tahun telah berganti tahun dan kini telah
tiba pula bulan Ramadan. Ia pergi ke Hira', ia kembali bermenung,
sedikit demi sedikit ia bertambah matang, jiwanyapun semakin penuh.
Sesudah beberapa tahun jiwa yang terbawa oleh Kebenaran Tertinggi itu
dalam tidurnya bertemu dengan mimpi hakiki yang memancarkan cahaya
kebenaran yang selama ini dicarinya Bersamaan dengan itu pula
dilihatnya hidup yang sia-sia, hidup tipu-daya dengan segala macam
kemewahan yang tiada berguna.
Ketika itulah ia percaya bahwa
masyarakatnya telah sesat dari jalan yang benar, dan hidup kerohanian
mereka telah rusak karena tunduk kepada khayal berhala-berhala serta
kepercayaan-kepercayaan semacamnya yang tidak kurang pula sesatnya.
Semua yang sudah pernah disebutkan oleh kaum Yahudi dan kaum Nasrani
tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu. Apa yang disebutkan
mereka itu masing masing memang benar; tapi masih mengandung
bermacam-macam takhayul dan pelbagai macam cara paganisma, yang tidak
mungkin sejalan dengan kebenaran sejati, kebenaran mutlak yang
sederhana, tidak mengenal segala macam spekulasi perdebatan kosong,
yang menjadi pusat perhatian kedua golongan Ahli Kitab itu. Dan
Kebenaran itu ialah Allah, Khalik seluruh alam, tak ada tuhan selain
Dia. Kebenaran itu ialah Allah Pemelihara semesta alam. Dialah Maha
Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu ialah bahwa manusia dinilai
berdasarkan perbuatannya. "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat
atompun akan dilihatNya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat
atompun akan dilihatNya pula." (Qur'an, 99:7-8) Dan bahwa surga itu
benar adanya dan nerakapun benar adanya. Mereka yang menyembah tuhan
selain Allah mereka itulah menghuni neraka, tempat tinggal dan kediaman
yang paling durhaka.
Mimpi Hakiki
Muhammad
sudah menjelang usia empatpuluh tahun. Pergi ia ke Hira' melakukan
tahannuth. Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah
dilihatnya dalam mimpi hakiki itu. Ia telah membebaskan diri dari segala
kebatilan. Tuhan telah mendidiknya, dan didikannya baik sekali. Dengan
sepenuh kalbu ia menghadapkan diri ke jalan lurus, kepada Kebenaran
yang Abadi. Ia telah menghadapkan diri kepada Allah dengan seluruh
jiwanya agar dapat memberikan hidayah dan bimbingan kepada
masyarakatnya yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.
Dalam hasratnya menghadapkan diri itu ia
bangun tengah malam, kalbu dan kesadarannya dinyalakan. Lama sekali ia
berpuasa, dengan begitu renungannya dihidupkan. Kemudian ia turun dari
gua itu, melangkah ke jalan-jalan di sahara. Lalu ia kembali ke
tempatnya berkhalwat, hendak menguji apa gerangan yang berkecamuk dalam
perasaannya itu, apa gerangan yang terlihat dalam mimpi itu? Hal
serupa itu berjalan selama enam bulan, sampai-sampai ia merasa kuatir
akan membawa akibat lain terhadap dirinya. Oleh karena itu ia menyatakan
rasa kekuatirannya itu kepada Khadijah dan menceritakan apa yang telah
dilihatnya. Ia kuatir kalau-kalau itu adalah gangguan jin.
Tetapi isteri yang setia itu dapat
menenteramkan hatinya. Dikatakannya bahwa dia adalah al-Amin, tidak
mungkin jin akan mendekatinya, sekalipun memang tidak terlintas dalam
pikiran isteri atau dalam pikiran suami itu, bahwa Allah telah
mempersiapkan pilihanNya itu dengan memberikan latihan rohani
sedemikian rupa guna menghadapi saat yang dahsyat, berita yang dahsyat,
yaitu saat datangnya wahyu pertama. Dengan itu ia dipersiapkan untuk
membawakan pesan dan risalah yang besar.
Wahyu Pertama
Tatkala
ia sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, ketika itulah datang
malaikat membawa sehelai lembaran seraya berkata kepadanya: "Bacalah!"
Dengan terkejut Muhammad menjawab: "Saya tak dapat membaca". Ia merasa
seolah malaikat itu mencekiknya, kemudian dilepaskan lagi seraya katanya
lagi: "Bacalah!" Masih dalam ketakutan akan dicekik lagi Muhammad
menjawab: "Apa yang akan saya baca." Seterusnya malaikat itu berkata:
"Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang
mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum
diketahuinya ..." (Qur'an 96:1-5)
Lalu ia mengucapkan bacaan itu. Malaikatpun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya8.
Tetapi kemudian ia terbangun ketakutan,
sambil bertanya-tanya kepada dirinya: Gerangan apakah yang dilihatnya?!
Ataukah kesurupan yang ditakutinya itu kini telah menimpanya?! Ia
menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa. Ia diam
sebentar, gemetar ketakutan. Kuatir ia akan apa yang terjadi dalam gua
itu. Ia lari dari tempat itu. Semuanya serba membingungkan. Tak dapat
ia menafsirkan apa yang telah dilihatnya itu.
Cepat-cepat ia pergi menyusuri celah-celah
gunung, sambil bertanya-tanya dalam hatinya: siapa gerangan yang
menyuruhnya membaca itu?! Yang pernah dilihatnya sampai saat itu
sementara dia dalam tahannuth, ialah mimpi hakiki yang memancar dari
sela-sela renungannya, memenuhi dadanya, membuat jalan yang di
hadapannya jadi terang-benderang, menunjukkan kepadanya, di mana
kebenaran itu. Tirai gelap yang selama itu menjerumuskan masyarakat
Quraisy ke dalam lembah paganisma dan penyembahan berhala, jadi
terbuka.
Sinar terang-benderang yang memancar di
hadapannya dan kebenaran yang telah menunjukkan jalan kepadanya itu,
ialah Yang Tunggal Maha Esa. Tetapi siapakah yang telah memberi
peringatan tentang itu, dan bahwa Dia yang menciptakan manusia dan
bahwa Dia Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan kepada manusia dengan
pena, mengajarkan apa yang belum diketahuinya?
Ia memasuki pegunungan itu masih dalam
ketakutan, masih bertanya-tanya. Tiba-tiba ia mendengar ada suara
memanggilnya. Dahsyat sekali terasa. Ia melihat ke permukaan langit.
Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk manusia. Dialah
yang memanggilnya. Ia makin ketakutan sehingga tertegun ia di
tempatnya. Ia memalingkan muka dari yang dilihatnya itu. Tetapi dia
masih juga melihatnya di seluruh ufuk langit. Sebentar melangkah maju
ia, sebentar mundur, tapi rupa malaikat yang sangat indah itu tidak
juga lalu dari depannya. Seketika lamanya ia dalam keadaan demikian.
Dalam pada itu Khadijah telah mengutus orang mencarinya ke dalam gua
tapi tidak menjumpainya.
Setelah rupa malaikat itu menghilang
Muhammad pulang sudah berisi wahyu yang disampaikan kepadanya.
Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar ketakutan. Dijumpainya
Khadijah sambil ia berkata: "Selimuti aku!" Ia segera diselimuti.
Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa ketakutan itu
berangsur reda dipandangnya isterinya dengan pandangan mata ingin
mendapat kekuatan.
"Khadijah, kenapa aku?" katanya. Kemudian
diceritakannya apa yang telah dilihatnya, dan dinyatakannya rasa
kekuatirannya akan teperdaya oleh kata hatinya atau akan jadi seperti
juru nujum saja.
Seperti juga ketika dalam suasana tahannuth
dan dalam suasana ketakutannya akan kesurupan Khadijah yang penuh rasa
kasih-sayang, adalah tempat ia melimpahkan rasa damai dan tenteram ke
dalam hati yang besar itu, hati yang sedang dalam kekuatiran dan dalam
gelisah. Ia tidak memperlihatkan rasa kuatir atau rasa curiga. Bahkan
dilihatnya ia dengan pandangan penuh hormat, seraya berkata:
"O putera pamanku9. Bergembiralah, dan
tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah10, aku berharap
kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah takkan
mencemoohkan kau; sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan,
jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan
menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan
yang benar."
Muhammad sudah merasa tenang kembali.
Dipandangnya Khadijah dengan mata penuh terimakasih dan rasa kasih.
Sekujur badannya sekarang terasa sangat letih dan perlu sekali ia
tidur. Ia pun tidur, tidur untuk kemudian bangun kembali membawa suatu
kehidupan rohani yang kuat, yang luar biasa kuatnya. Suatu kellidupan
yang sungguh dahsyat dan mempesonakan. Tetapi kehidupan yang penuh
pengorbanan, yang tulus-ikhlas semata untuk Allah, untuk kebenaran dan
untuk perikemanusiaan. Itulah Risalah Tuhan yang akan diteruskan dan
disampaikan kepada umat manusia dengan cara yang lebih baik, sehingga
sempurnalah cahaya Allah, sekalipun oleh orang-orang kafir tidak
disukai.
Catatan kaki:
[1]
Berdasarkan pada sebagian besar ahli genekologi, bahwa putera-putera
Nabi s.a.w. dari Khadijah dua orang: al-Qasim dan Abdullah, yang diberi
julukan at-Tahir dan at-Tayyib. Ada juga yang mengatakan tiga, ada pula
yang mengatakan empat orang.
[2] Mungkin nama ini sudah diarabkan (A)
[3]
Bangunan itu terdiri dari empat sudut dikenal dengan nama-nama sudut
utara, ar-Rukn'l-Iraqi (Irak), sudut selatan, ar-Rukn'l-Yamani, sudut
barat, ar-Rukn'l-Syami dan sudut timur, ar-Rukn'l-Aswad (A)
[4]
Hubal, Lat, 'Uzza dan Manat adalah berhala-berhala sembahan Arab
pagan. Konon kabarnya Hubal berhala terbesar yang tinggal dalam Ka'bah,
dibuat dari batu akik dalam bentuk manusia.
Keterangan
tentang tuhan-tuhan wanita Lat, 'Uzza dan Manat berbeda-beda mengenai
bentuknya. Katanya Lat dalam bentuk manusia juga, 'Uzza berhala kaum
Thaqif. 'Uzza pada mulanya adalah pohon suci, terletak di antara Mekah
dengan Ta'if. Manat merupakan batu putih, berhala kaum Hudhail dan
Khuza'a. Ketiga-tiganya itu berbentuk wanita. (A)
[5]
Usman b. 'Affan, Khalifah ketiga. Setelah Ruqayya diceraikan oleh
'Utba diambil isteri oleh Usman b. 'Affan. Setelah Umm Kulthum dewasa
kawin dengan 'Utaiba, lalu diceraikan pula. Sesudah dalam tahun ke-2 H.
Ruqayya wafat, Usman kawin dengan Umm Kulthum. Ia meninggal dalam tahun
ke-9 H. di Medinah (A).
[6]
Tahannuf atau tahannafa, mungkin asal katanya seakar dengan hanif, yang
berarti 'cenderung kepada kebenaran' 'meninggalkan berhala dan
beribadat kepada Allah' (LA) atau sebaliknya dari perbuatan syirik.
(Bandingkan Qur'an, 2: 135; 10: 105). Tahannuth atau tahannatha,
beribadat dan menjauhi dosa; mendekatkan diri kepada Tuhan' (N).
'Beribadat dan menjauhi berhala, seperti tahannatha (LA). Dalam
terjemahan selanjutnya kedua kata ini tidak diterjemahkan (A).
[7] Bahasa Persia, parsang, ukuran panjang dahulu kala, kira-kira 3.5 mil atau hampir 6 km. (A).
[8]
Demikian buku-buku sejarah yang mula-mula menceritakan. Ibn Ishaq juga
ke sana dasarnya. Demikian juga yang datang kemudian banyak yang
menceritakan begitu. Hanya saja sebagian mereka berpendapat bahwa
permulaan wahyu itu datang ia dalam keadaan jaga dan di waktu siang,
dengan menyebutkan sebuah keterangan melalui Jibril yang menenteramkan
hati Muhammad ketika dilihatnya dalam ketakutan. Ibn Kathir dalam
Tarikh-nya menyebutkan sumber yang dibawa oleh al-Hafiz Abu Na'im
al-Ashbahani dalam bukunya Dala'il'n-Nubawa dari 'Alqama bin Qais,
bahwa "Yang mula-mula didatangkan kepada para nabi itu mereka dalam
keadaan tidur (dengan maksud) supaya hati mereka tenteram. Sesudah itu
kemudian wahyu turun. Dan ditambahkan: "Ini yang dikatakan 'Alqama ibn
Qais sendiri, suatu keterangan yang baik, diperkuat oleh yang datang
sebelum dan sesudahnya."
[9] Suatu
kebiasaan orang Arab memanggil orang yang dianggap seturunan. Muhammad
dan Khadijah dari nenek moyang yang sama, yakni Qushayy (A).
[10] Suatu pernyataan sumpah yang biasa diucapkan pada masa itu, maksudnya "Demi Allah" (A)
Sumber : http://www.sejarahnabi.net/
Label:
Siroh Nabawiyah
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
Papan Info
Jadwal Ujian Nasional ( UN ) 2015
Tanggal 13-15 April 2015 Untuk Tingkat MA/SMA/SMK
Tanggal 0 - 07 Mei 2015 Untuk Tingkat MTs/SMP
Kategori
- Asrama Santri (7)
- Berita (11)
- Bulughul Marom (8)
- In Picture (7)
- Kegiatan (30)
- Kenangan (2)
- Latihan Drama (7)
- Pontren (2)
- Pramuka (4)
- SEKAPUR SIRIH (2)
- Siroh Nabawiyah (5)
- Umum (1)
- Ushul Fiqh (1)